Tidak pernah terbayangkan
sebelumnya saat memutuskan untuk menjadi penonton bayaran atau yangs
seting disebut penonton alay di banyak acara televisi. Banyak orang yang
jauh merantau dari kampung halamannya hanya untuk bekerja, dan sulitnya
mencari lapangan pekerjaan membuat orang menyanggupi untuk menjadi
penonton bayaran di televisi.
Saat ditanya pekerjaannya? Mereka mengaku kalau menjadi pegawai di
stasiun televisi karena merasa malu dengan identitasnya sebagai
“penonton bayaran” dan menutupi hal itu dari keluarganya.
Seorang penonton bayaran mengungkapkan pengakuan bohongnya karena ia
malu kepada orang tuanya kalau ia hanyalah penonton bayaran di
televisi.
“Aku bilangnya kemarin itu, ‘Ya, Ma, aku diterima di
suatu TV.’ Mereka tahunya aku masuk ke televisi-televisi itu bukan
penonton,”
Source: entertainment.kompas.com
“Katanya ke Jakarta kerja, masa cuma jadi alay,”
Source: entertainment.kompas.com
Banyak alasan mau menjadi penonton bayaran

via: http://wartabuana.com
Ada yang sekadar ingin menonton artis sekaligus mendapat bayaran.
Yang lain mengandalkan bayaran dari agen atau koordinator penonton untuk
menyambung hidup. Selain itu banyak orang orang yang hanya memiliki
ijasah sekolah dasar yang kesulitan mencari pekerjaan akhirnya menjadi
penonton bayaran seperti ini
“Ya gimana, daripada jadi pengangguran,”
Source: entertainment.kompas.com
Salah seorang penonton bayaran bernama Deden mengatakan kalau ia
diajak oleh bibinya untuk menjadi penonton bayaran. Susahnya mencari
kerja membuat ia menyanggupi bayaran Rp. 60.000 per hari. Ia bahkan
memilih indekos bersama seorang temannya untuk menghemat pengeluaran.
Pendapatan yang ia dapatkan hanya bisa untuk menyambung hidup dan ia
tidak bisa berbuat apa apa lagi
“Pengin sih cari kerja lain, tapi mentok di ijazah,”
Source: entertainment.kompas.com
Berbohong supaya orang tua tidak kecewa

via: http://entertainment.kompas.com
Annisa, seorang penonton bayaran yang mendapatkan bayaran lebih baik
dari deden mengatakan kalau ia mendapatkan “pekerjaan” ini dari sebuah
iklan koran. Ia langsung diterima setelah menghubungi pemasang iklan. Ia
terpaksa berbohong karena sulitnya mencari kerja di
Jakarta, dan orang tuanya selama ini tahunya ia bekerja di stasiun televisi bukan sebagai penonton bayaran.
“Gimana lagi, bohong lagi. Aku takutnya Mama kecewa,”
Source: entertainment.kompas.com
Ia sudah berusaha untuk mencari pekerjaan di tempat lain tapi belum
membuahkan hasil. Mau tidak mau ia meneruskan pekerjaannya menjadi
penonton bayaran, tapi ia tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk
menjadi seorang pekerja dengan kemampuan yang dimilikinya. Entah kapan
keinginan ini bisa terwujud
“Jangan diterusin (jadi ‘penonton alay’). Aku pengin
kerja yang nyaman dan enggak ngebohongin orangtua lagi, bisa kasih uang
ke orangtua,”
Source: entertainment.kompas.com
Jangan rendahkan apa yang mereka kerjakan, mereka melakukan
pekerjaan itu karena kondisi. Kita yang mempunyai kehidupan lebih baik
hendaknya tidak merendahkan mereka dengan sebutan penonton alay, karena sebenarnya mereka tidak ingin menjadi seperti itu.